tanamduit menawarkan investasi yang aman dengan potensi return atau imbal hasil lebih tinggi dari bunga deposito.
Sebelum berinvestasi, yuk, kenali kondisi market pada pekan 2-6 Februari 2026 dan tips investasinya melalui berita market update berikut!
Ringkasan Weekly Market Recap:
- Global: Sentimen global mixed, risiko belum sepenuhnya reda.
- OJK-BEI: Transisi pimpinan berjalan rapi, pasar tetap tenang.
- IHSG: IHSG terkoreksi tajam, tekanan big caps mendominasi. Asing masih jual bersih, mulai muncul beli selektif.
- SUN: Yield naik tipis, harga obligasi turun terbatas.
- Emas: Emas tetap kuat meski volatil jangka pendek.
Pasar Global Mixed, Indonesia Terkoreksi di Tengah Tekanan Rupiah
Pada minggu 2-6 Februari 2026, pasar keuangan global bergerak mixed. Bursa AS menguat terbatas, dengan Dow Jones naik +2,5% selama minggu tersebut didukung ekspektasi penurunan suku bunga The Fed dan turunnya yield UST 10Y, sementara Nasdaq terkoreksi (-1,8%) akibat profit taking saham teknologi. Di Asia, Nikkei 225 (+1,8%) dan bursa ASEAN relatif stabil, meski Hang Seng (-3,0%) tertekan sentimen Tiongkok.
Sebaliknya, pasar saham Indonesia melemah signifikan. IHSG turun -4,7%, diikuti LQ45 dan IDX30, dipicu kombinasi penguatan dolar AS (DXY), pelemahan Rupiah, serta kenaikan yield SUN (harga turun) di seluruh tenor yang menekan valuasi saham. Meski demikian, indeks saham SRI Kehati justru naik +1,8%, menunjukkan minat selektif pada saham defensif dan berfundamental kuat.
Di pasar komoditas, minyak terkoreksi (WTI -2,6%, Brent -3,7%) seiring kekhawatiran permintaan global, sementara emas XAU naik +2,0% ke kisaran USD4.960/oz sebagai respons atas turunnya yield obligasi negara AS dan meningkatnya permintaan lindung nilai (hedge instrument). Ke depan, pasar masih sensitif terhadap arah kebijakan The Fed, pergerakan dolar AS, stabilitas Rupiah, dan respons Bank Indonesia, yang akan menentukan apakah tekanan domestik bersifat sementara atau berlanjut. (Investing, IDX, PHEI)
Transisi Kepemimpinan OJK dan BEI, Pasar Tetap Terkendali
Pengunduran diri Ketua (Mahendra Siregar), Wakil Ketua (Mirza Adityaswara), dan Anggota Dewan Komisioner Pengawas Pasar Modal (Inarno Djajadi) Otoritas Jasa Keuangan serta Direktur Utama Bursa Efek Indonesia sempat memunculkan kehati-hatian pelaku pasar, namun tidak memicu gangguan signifikan pada stabilitas keuangan. Reaksi yang muncul bersifat sentimen jangka pendek, investor cenderung wait and see, dan dinilai tidak mengubah arah fundamental pasar karena fungsi pengawasan dan operasional tetap berjalan.
Untuk menjaga kesinambungan, OJK menunjuk Friderica Widyasari Dewi sebagai Pejabat Sementara Ketua DK OJK dan Hasan Fawzi sebagai Pjs Wakil Ketua DK OJK, sementara BEI menetapkan Jeffrey Hendrik sebagai Pjs Direktur Utama hingga RUPST. Penunjukan cepat ini dipandang menenangkan pasar karena memastikan continuity of leadership dan kepastian tata kelola selama masa transisi. (Antara News, OJK, BEI)
SUN: Yield Naik, Harga Koreksi Tipis
Pada pekan 19-23 Januari 2026, yield SUN naik (Indo 10Y ke 6,39%) dan harga turun tipis (Indobex melemah), dipicu sentimen global yang lebih risk-off, tekanan rupiah, serta kehati-hatian investor. Nilai transaksi tergolong tinggi, lebih dari Rp150 triliun, mencerminkan rebalancing aktif di tengah volatilitas.
Arus asing di SBN selektif cenderung net sell karena sensitivitas pada pergerakan USD/yield global dan rupiah. Prospek 2026 tetap konstruktif bila inflasi terjaga dan ruang easing terbuka, dengan katalis utama stabilnya rupiah serta terkendalinya yield UST/DXY, risiko utama jika USD/yield global kembali melonjak. (PHEI, Reuters, Bloomberg Technoz, CNBC Indonesia, Kontan)
Asing Masih Selektif, IHSG Terkoreksi di Tengah Volatilitas Global
Pada periode 2-6 Februari 2026, pasar saham Indonesia bergerak volatil dengan kecenderungan melemah. IHSG turun 4,7% secara mingguan ke 7.935, seiring tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar, tercermin dari pelemahan LQ45 (-2,15%), IDX30 (-0,82%), dan ISSI (-6,65%). Meski demikian, SRI Kehati justru naik 1,8%, menandakan rotasi ke saham defensif dan berfundamental lebih stabil. Aktivitas perdagangan juga melandai, dengan nilai transaksi harian turun ke kisaran Rp19-29 triliun, mencerminkan sikap wait and see investor.
Dari sisi aliran dana, asing mencatat net sell sekitar Rp1,1 triliun sepanjang pekan, melanjutkan tekanan YTD yang masih negatif (±Rp10,1 triliun). Namun menariknya, pada penutupan Jumat (6 Februari) asing justru membukukan net buy Rp944 miliar, mengindikasikan mulai munculnya aksi beli selektif setelah koreksi tajam. Pola ini menunjukkan bahwa pelemahan pekan tersebut lebih bersifat sentimen dan penyesuaian jangka pendek, dipengaruhi volatilitas global dan kehati-hatian awal tahun, bukan perubahan mendasar pada fundamental ekonomi domestik.
Ke depan, selama sentimen global masih fluktuatif dan investor asing bersikap selektif, pergerakan IHSG berpotensi tetap tidak linier. Namun, stabilitas makro domestik dan munculnya akumulasi bertahap pada saham-saham berkualitas membuka ruang pemulihan bertahap ketika tekanan eksternal mulai mereda. (IDX, Bloomberg, Reuters, CNBC Indonesia)
SUN 2-6 Februari 2026: Yield Naik Tipis, Pasar Tetap Terkendali
Berdasarkan data PHEI, pada 2-6 Februari 2026 yield SUN naik tipis di semua tenor: SUN 10Y naik ke 6,42%, 3Y ke 5,44%, dan 1Y ke 4,87%. Kenaikan yield ini membuat harga SUN turun terbatas, tercermin dari Indobex Government yang hanya naik tipis sekitar 0,3% secara mingguan, menandakan tekanan harga masih ringan.
Pergerakan ini lebih dipicu faktor eksternal dan teknikal, seperti naik-turunnya yield US Treasury, penguatan dolar, serta sikap hati-hati investor di tengah volatilitas global, bukan karena fundamental domestik yang memburuk. Data YTD juga menunjukkan perubahan harga obligasi relatif datar, menegaskan pasar masih stabil.
Ke depan, outlook SUN tetap cukup positif selama inflasi terjaga dan BI konsisten menjaga stabilitas. Untuk investor reksa dana pendapatan tetap, kondisi yield naik tipis ini bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap, terutama pada reksa dana dengan obligasi tenor pendek-menengah, tanpa perlu terburu-buru atau panik. (PHEI, Bank Indonesia, Bloomberg, Reuters)
Harga Emas Naik-Turun, Tapi Masih Kuat
Pada minggu 2-6 Februari 2026, harga emas dunia (XAU) sempat turun di awal pekan (USD4,666/oz) karena banyak investor ambil untung setelah harga naik sangat tinggi di akhir Januari. Namun, di hari Selasa 3 Februari harga emas naik kembali dan bertahan di level tinggi di penutupan pekan di USD4.961, atau kenaikan 1,97% selama pekan tersebut, karena investor kembali mencari aset aman di tengah ketidakpastian global.
Secara umum, kenaikan emas masih didukung faktor kuat, seperti perkiraan suku bunga AS akan turun, kondisi global yang belum stabil, dan bank sentral di berbagai negara masih membeli emas untuk cadangan. Penurunan harga yang terjadi lebih karena gerak jangka pendek, bukan tanda tren emas akan berbalik turun.
Bagi investor yang sudah memiliki emas, sebaiknya tetap disimpan sebagai pelindung nilai. Bagi yang belum punya, pembelian bisa dilakukan bertahap saat harga turun, dengan tujuan jangka menengah-panjang, bukan untuk jual-beli cepat. (Reuters, Bloomberg, World Gold Council, Trading Economics, Investing.com)
Factors to Watch:
- Suku Bunga: Arah kebijakan Federal Reserve dan Bank Indonesia menentukan ruang kinerja RDPU dan RDPT. Pelonggaran bertahap mendukung RDPT, sedangkan jika suku bunga bertahan tinggi akan menguntungkan RDPU.
- Yield Obligasi: Yield SUN tenor panjang masih sensitif global risk-off. Jika yield turun RDPT berpeluang capital gain, jika naik RDPT fluktuatif.
- Arus Asing: Net sell investor asing di saham Indonesia dan isu MSCI menahan pertumbuhan return reksa dana saham, sedangkan arus balik masuk jadi katalis penguatan RD saham.
- Rupiah: Stabilitas nilai tukar menjadi kunci masuknya kembali dana asing lintas asset, rupiah yang stabil dan atau menguat mendukung RD saham dan RDPT.
Tips Investasi
Reksa Dana Unggulan di tanamduit
Reksa Dana Pasar Uang (RDPU)
Tujuan: stabilitas, likuiditas, dan parkir dana
- Sucorinvest Money Market Fund → Kinerja konsisten di semua horizon, likuiditas kuat, cocok sebagai jangkar portofolio.
- BRI Seruni Pasar Uang III → Stabil dengan return kompetitif, cocok untuk investor konser-vatif dan dana jangka pendek.
- Syailendra Dana Kas → Track record panjang dan stabil, baik sebagai buffer saat pasar volatil.
Reksa Dana Pendapatan Tetap (RDPT)
Tujuan: yield lebih tinggi dengan risiko terukur
- TRIM Dana Tetap 2 Kelas A → Konsisten jangka panjang, mampu bertahan di berbagai siklus suku bunga.
- Syailendra Pendapatan Tetap Premium Kelas A → Kinerja 3–5 tahun solid, cocok untuk konser-vatif–moderat yang ingin naik kelas dari RDPU.
- Eastspring IDR Fixed Income Fund Kelas A → Track record 10 tahun kuat, manajemen durasi relatif disiplin.
Reksa Dana Campuran
Tujuan: pertumbuhan seimbang dan peredam volatilitas
- Syailendra Balanced Equity Opportunity Fund
→ Performa sangat kuat lintas periode, salah satu campuran terbaik. - TRIM Kombinasi 2 → Konsisten dan terdiversi-fikasi, cocok sebagai core untuk profil moderat.
- Mandiri Investa Syariah Berimbang → Alternatif syariah dengan kinerja jangka menengah–panjang yang solid.
Reksa Dana Saham
Tujuan: pertumbuhan jangka panjang, siap volatil
- Sucorinvest Maxi Fund → Return jangka pan-jang sangat kuat, cocok untuk investor agresif berdisiplin.
- Sucorinvest Equity Fund Kelas A → Konsisten di berbagai horizon, lebih “smooth” dibanding Maxi Fund.
- TRIM Syariah Saham → Opsi saham syariah dengan kinerja stabil dan rekam jejak panjang.
Disclaimer Reksa Dana: Informasi ini bersifat edukasi dan bukan merupakan ajakan atau rekomendasi untuk membeli atau menjual reksa dana tertentu. Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan. Nilai investasi dapat naik atau turun. Investor disarankan membaca prospektus dan menyesuaikan keputusan investasi dengan tujuan serta profil risiko masing-masing.
Pertimbangan Untuk Investor Emas
- Emas tetap relevan sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global. Kenaikan awal 2026 mencerminkan peran safe haven, koreksi akhir Januari bersifat teknikal dan sementara.
- Investor yang sudah memiliki emas disarankan menahan posisi inti dan melakukan penyesuaian bertahap saat volatilitas. Bagi yang belum memiliki, pendekatan akumulasi bertahap lebih tepat dibanding masuk sekaligus. Porsi emas ideal berada di kisaran 10–20% portofolio sebagai penyeimbang risiko sepanjang 2026.
Yuk, investasi sekarang di tanamduit!
⚠ Sebelum melakukan keputusan investasi, investor wajib memahami profil risiko pribadi dan mempelajari karakteristik produk investasi, termasuk potensi risiko yang mungkin dihadapi. Informasi ini bersifat umum dan tidak dapat dijadikan sebagai jaminan kinerja di masa depan; kinerja historis tidak mencerminkan hasil di masa depan.
DISCLAIMER:
Tulisan ini dibuat dan diterbitkan oleh tanamduit, yang dikembangkan dan dikelola oleh PT Mercato Digital Asia sebagai induk usaha dari PT Star Mercato Capitale. PT Mercato Digital Asia telah terdaftar pada Kementerian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) dengan nomor 005445.01/DJAI.PSE/07/2022 dan bekerja sama dengan PT Cipta Optima Digital (Emasin) untuk produk Koleksi Emas, dan PT BPRS Attaqwa dalam menyediakan produk Tabungan Emas 24 Karat produksi emasi PT Aneka Tambang Tbk (Antam).
PT Star Mercato Capitale sebagai anak usaha dari PT Mercato Digital Asia, telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dengan ijin nomor KEP-13/PM.21/2017, serta ditetapkan menjadi Mitra Distribusi SBN Retail dengan nomor S-363/PR/2018 dan SBN Syariah dengan nomor PENG-2/PR.4/2018 dari DJPPR, Kementerian Keuangan Republik Indonesia.
Tulisan ini bersumber dari berbagai informasi tertulis dan visual yang terpercaya dan tersebar luas baik yang disediakan secara digital maupun hardcopy. tanamduit berusaha untuk memberikan informasi yang terbaik, namun meskipun demikian manajemen tanamduit beserta karyawan dan afiliasinya tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas keakuratan, kelalaian, atau kerugian apa pun yang timbul dari penggunaan tulisan ini.


