tanamduit menawarkan investasi yang aman dengan potensi return atau imbal hasil lebih tinggi dari bunga deposito.
Sebelum berinvestasi, yuk, kenali kondisi market pada bulan Februari 2026 dan tips investasinya melalui berita market update berikut!
Ringkasan Monthly Market Recap:
- Geopolitik: Serangan 28 Feb picu lonjakan minyak dan emas.
- IHSG: Melemah tipis, asing masih selektif.
- SUN: Yield naik tipis karena risiko inflasi dan global.
- Emas: Menguat didorong risk-off dan turunnya yield.
- AS: Dow stabil, Nasdaq tertekan, yield US melemah, dolar DXY menguat tipis.
Februari 2026: Pasar Global Selektif, Indonesia Masih Hati-Hati
Sepanjang Februari hingga penutupan 27 Februari, pasar global bergerak beragam. Bursa Amerika relatif stabil, naik tipis 0,17% selama Februari, sementara saham teknologi di Nasdaq terkoreksi -3,38%. Di Asia, beberapa pasar seperti Jepang dan Thailand mencatat penguatan kuat, tetapi Hong Kong melemah. Di pasar obligasi, imbal hasil US Treasury turun sekitar 6,5% ke 3.962, memberi sinyal ekspektasi pelonggaran moneter atau turunnya suku bunga US ke depan. Di sisi lain, emas XAU menguat signifikan lebih dari 8% selama Februari, harga minyak dunia naik moderat, mencerminkan meningkatnya minat terhadap aset lindung nilai.
Di Indonesia, IHSG melemah -1,13% meski sejumlah indeks berbasis saham unggulan dan ESG justru menguat. Yield SUN tenor panjang naik tipis, menandakan investor obligasi masih berhati-hati. Rupiah relatif stabil di sekitar Rp16.760an, menunjukkan stabilitas domestik masih terjaga meski arus global bergerak selektif.
Perlu dicatat, eskalasi militer yang dimulai pada 28 Februari terjadi setelah bursa tutup sehingga belum tercermin dalam data bulan ini. Ke depan, arah harga minyak, emas, dolar AS, dan respons bank sentral akan menjadi penentu apakah volatilitas meningkat atau pasar kembali stabil. (Investing, IDX, PHEI, Reuters, Bloomberg Technoz)
Dampak Serangan AS–Israel ke Iran: Respons Pasar Langsung Terlihat
Respons pasar terhadap eskalasi sejak 28 Februari terlihat jelas pada pergerakan komoditas. Pada Senin pagi jam 06.45 WIB Brent Oil melonjak ke US$79,37 (+9,51%) dan WTI ke US$72,53 (+8,22%), mencerminkan kekhawatiran gangguan pasokan energi global. Di saat yang sama, aset lindung nilai ikut menguat: emas (XAU/USD) naik ke US$5.379 (+1,93%), kontrak emas berjangka di US$5.394 (+2,79%), dan perak naik +3,56%. Kenaikan ini menunjukkan pasar langsung masuk ke mode proteksi risiko.
Analis global menilai, jika konflik meluas atau mengganggu jalur distribusi seperti Selat Hormuz, harga minyak berpotensi bertahan tinggi dan mendorong tekanan inflasi global. Kondisi ini bisa membuat bank sentral, terutama The Fed, lebih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga, sehingga volatilitas saham dan obligasi tetap tinggi.
Bagi Indonesia, kenaikan minyak dan penguatan emas berarti risiko inflasi energi meningkat dan sentimen global menjadi lebih defensif. Dampaknya bisa terasa pada rupiah, yield SUN, dan pergerakan IHSG jika ketegangan berlanjut. Namun jika konflik cepat mereda, lonjakan komoditas ini berpotensi menjadi reaksi jangka pendek. (Investing, Reuters, Bloomberg)
IHSG Fluktuatif, Asing Masih Selektif, Perkembangan Timur Tengah Mengintai Maret
Sepanjang Februari (hingga 27 Feb), pasar saham Indonesia bergerak naik-turun dan ditutup melemah tipis secara bulanan (IHSG -1,13%), meski sebagian indeks saham unggulan/tematik justru menguat, menjadi tanda bahwa pasar tidak turun merata, tetapi terjadi rotasi saham yang cukup massif. Aktivitas transaksi juga cenderung ramai di pekan terakhir, sekitar Rp150 T di minggu 23-27 Februari, mencerminkan meningkatnya tarik-menarik antara investor yang “memburu peluang” dan investor yang memilih defensif.
Dari sisi arus dana, asing sempat mencatat beberapa hari net buy di pertengahan bulan, namun secara kumulatif masih net sell sekitar Rp9,5 triliun YTD. Sikap ini selaras dengan sentimen yang sepanjang awal 2026 menekan aset Indonesia, mulai dari isu kepercayaan investor (free float MSCI dan termasuk outlook peringkat kredit Indonesia dari Moody’s), kekhawatiran fiskal/agenda pertumbuhan ekonomi Indonesia, hingga fokus Bank Indonesia menjaga stabilitas rupiah dan pasar keuangan.
Ke depan, “game changer” utamanya adalah eskalasi geopolitik Timur Tengah yang dimulai 28 Februari (setelah bursa Februari berakhir). Konsensus analis global: jika konflik berlanjut, pasar berpotensi masuk mode risk-off, yang biasanya membuat minyak dan emas menguat serta dolar cenderung perkasa, dan itu bisa menambah tekanan volatilitas untuk IHSG, rupiah, dan yield SUN pada periode berikutnya. (IDX, Investing, Reuters, Bank Indonesia, CNBC Indonesia)
Yield SUN Naik Tipis, Pasar Obligasi Menanti Arah Inflasi & Geopolitik
Sepanjang Februari 2026, yield SUN bergerak naik tipis dibanding akhir Januari. Yield 10 tahun sempat mendekati 6,42% sebelum kembali ke sekitar 6,39% pada 27 Februari. Tenor pendek juga naik lebih terasa. Artinya, harga obligasi sempat tertekan, namun tidak terjadi pelemahan tajam. Indeks obligasi seperti Indobex Composite dan Indobex Government masih mencatat kenaikan terbatas secara bulanan, menandakan pasar tetap relatif stabil.
Kenaikan yield dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik: ekspektasi suku bunga global yang masih berhati-hati, pergerakan US Treasury, serta kewaspadaan terhadap inflasi dan nilai tukar rupiah. Menjelang akhir bulan, eskalasi geopolitik di Timur Tengah turut meningkatkan risiko harga minyak, yang berpotensi mendorong tekanan inflasi dan membuat investor obligasi lebih selektif.
Ke depan hingga akhir 2026, arah SUN akan sangat ditentukan oleh inflasi Indonesia yang diumumkan 2 Maret 2026, stabilitas rupiah, serta perkembangan konflik global. Jika inflasi terkendali dan rupiah stabil, yield berpeluang turun bertahap. Namun bila harga energi bertahan tinggi, yield bisa tetap tinggi dan berfluktuasi. (PHEI, Bank Indonesia, Reuters, Investing)
Emas Semakin Menjadi Safe Haven Karena Turunnya Yield AS dan Masih Akan Menguat Merespons Perkembangan Geopolitik
Sepanjang Februari 2026, emas (XAU) kembali menguat. dari US$4.865/oz (30 Jan) emas naik ke US$5.277,9/oz (27 Feb) atau sekitar +8,5% MoM dan +22,3% YTD. Penguatannya terjadi bertahap di paruh kedua bulan, pertanda klasik pasar yang sedang mencari “pelindung” saat risiko global meningkat. Penyebab utamanya adalah kombinasi risk-off dan turunnya imbal hasil obligasi AS (yield turun membuat emas lebih menarik karena emas tidak memberi bunga). Di Februari, Reuters mencatat pembelian emas oleh bank sentral dan permintaan investasi yang tinggi (WGC) ikut memnaikkan harga emas dunia.
Prospek sampai akhir 2026 masih konstruktif tapi volatil. Jika eskalasi geopolitik Timur Tengah berlanjut, analis umumnya melihat emas tetap mendapat dukungan sebagai safe haven, terlihat dari reaksi pasar saat tensi Iran memanas, emas melonjak dan minat lindung nilai naik. Namun, jika konflik cepat mereda dan dolar AS menguat tajam/real yield US Treasury naik (harga melemah), harga emas bisa mengalami koreksi teknikal. (Investing, Reuters)
Dow Stabil, Nasdaq Tertekan, Yield US Treasury Turun, Dolar AS Menguat Tipis
Sepanjang Februari, Dow Jones relatif stabil (+0,2%) sementara Nasdaq melemah (-3,4%), mencerminkan rotasi dari saham teknologi/growth ke saham yang lebih defensif. Sentimen dipengaruhi sikap The Fed yang menahan suku bunga di 3,50%–3,75% dan menegaskan tetap data-dependent, membuat pasar menunda ekspektasi pemangkasan agresif.
Di obligasi, yield UST 10Y turun dari sekitar 4,24% ke 3,96%, menandakan meningkatnya kehati-hatian dan minat pada aset aman. Indeks dolar AS DXY menguat tipis (+0,6%), sejalan dengan posisi dolar AS sebagai aset lindung nilai dan respons terhadap dinamika suku bunga.
Ke depan hingga akhir 2026, arah pasar akan ditentukan oleh inflasi AS, timing penurunan suku bunga, serta eskalasi geopolitik Timur Tengah sejak 28 Februari. Jika konflik meluas dan harga energi naik, volatilitas bisa meningkat. Sebaliknya, jika inflasi mereda dan tensi stabil, ruang pemulihan saham—terutama sektor growth—akan lebih terbuka. (Federal Reserve Statement 28 Jan 2026, Reuters, Investing)
Factors to Watch:
- Eskalasi Konflik Timur Tengah. Perkembangan serangan sejak akhir Februari berpotensi memicu lonjakan harga minyak dan meningkatkan permintaan aset safe haven seperti emas. Jika konflik meluas, volatilitas saham global bisa meningkat.
- Kebijakan The Fed dan Arah Suku Bunga Global. Sikap The Fed yang cenderung hati-hati menentukan arah yield obligasi US dan valuasi saham. Jika pemangkasan suku bunga tertunda, pasar bisa bergerak fluktuatif, jika sinyal pelonggaran muncul, aset berisiko berpotensi pulih.
- Inflasi AS dan Indonesia. Data inflasi menjadi penentu utama kebijakan moneter. Inflasi yang melandai membuka ruang penurunan suku bunga; inflasi yang bertahan tinggi bisa menekan pasar obligasi dan saham.
- Pergerakan Yield UST dan Indeks Dolar (DXY). Yield US Treasury yang turun akan mendukung kenaikan harga saham dan obligasi emerging market. Sebaliknya, dolar AS yang menguat bisa menekan rupiah dan keluarnya arus dana asing.
Tips Investasi
Rekomendasi Investasi Untuk Investor Reksa Dana
Berdasarkan Profil Risiko
- Profil Konservatif, fokus: stabilitas dan minim fluktuasi (horizon 1–3 tahun), Alokasi:
- 60–80% Reksa Dana Pasar Uang
- Profil Moderat, fokus: pertumbuhan seimbang (horizon 3–5 tahun), Alokasi:
- 30–40% Pasar Uang
- 30–40% Pendapatan Tetap
- 20–30% Saham / Campuran
- Profil Agresif, fokus: pertumbuhan jangka panjang (horizon >5 tahun), Alokasi:
- 60–80% Reksa Dana Saham
- 10–20% Pendapatan Tetap
- 10–20% Pasar Uang (untuk fleksibilitas)
Tetap Terapkan Strategi DCA (Dollar Cost Averaging)
- Investasi rutin nominal tetap setiap bulan.
- Tidak perlu menebak kemana arah pergerakan pasar, termasuk perkembangan geopolitik.
- Semakin volatil pasar, semakin relevan DCA.
Strategi DCA yang disiplin dan terdiversifikasi sesuai dengan horizon investasi dalam pasar yang bergerak volatil akan menghasilkan kinerja yang optimal.
- Reksa Dana Saham (Untuk pertumbuhan jangka panjang dan toleransi volatilitas lebih tinggi)
- Sucorinvest Maxi Fund. Menunjukkan konsistensi kinerja 3–5 tahun terakhir dengan CAGR solid dan daya tahan di berbagai siklus pasar.
- Sucorinvest Equity Fund. AUM besar dan rekam jejak stabil menjadikannya pilihan core equity yang kredibel.
- Syailendra Equity Opportunity Fund. Kinerja jangka menengah yang baik dan relatif adaptif terhadap rotasi sektor.
- Reksa Dana Pendapatan Tetap (Untuk keseimbangan dan potensi capital gain saat yield stabil/turun)
- Insight Hajj Syariah Fund. Konsisten dalam horizon 3–5 tahun dengan profil risiko terukur.
- Trimegah Dana Tetap Syariah. Stabil dan cocok dalam fase pasar obligasi yang mulai terkendali.
- Eastspring IDR Fixed Income Fund. Track record panjang dan pengelolaan solid untuk strategi defensif.
- Reksa Dana Pasar Uang (Untuk likuiditas dan stabilitas jangka pendek)
- Insight Money. Konsisten dan kompetitif dalam kategori pasar uang.
- Sucorinvest Money Market Fund. AUM besar dan stabilitas imbal hasil terjaga.
- Majoris Pasar Uang Syariah Indonesia. Alternatif syariah dengan performa yang relatif stabil.
- Reksa Dana Campuran (Untuk strategi seimbang dan fleksibel)
- Syailendra Balanced Opportunity Fund. Kinerja 3–5 tahun kuat dengan keseimbangan agresif-terukur.
- Sucorinvest Citra Dana Berimbang. Konsisten dan relatif defensif saat pasar bergejolak.
- Sucorinvest Anak Pintar. Pertumbuhan menarik dalam horizon menengah dengan manajemen aktif.
Kriteria Pemilihan Reksa Dana
- Konsistensi Kinerja Jangka Menengah–Panjang
Produk dipilih berdasarkan performa 3–5 tahun yang stabil, bukan hanya return jangka pendek atau YTD. - Risk–Return yang Seimbang
Imbal hasil dinilai sebanding dengan tingkat fluktuasi, sehingga tidak hanya tinggi, tetapi juga terkelola risikonya. - Track Record dan Kredibilitas Manajer Investasi
Manajer investasi memiliki rekam jejak melewati berbagai siklus pasar, termasuk periode volatilitas. - Ukuran AUM dan Likuiditas
Dana kelolaan memadai untuk menjaga fleksibilitas transaksi dan stabilitas operasional. - Relevansi dengan Kondisi Makro Saat Ini
Pemilihan mempertimbangkan arah suku bunga, pergerakan yield obligasi, geopolitik, dan stabilitas nilai tukar. - Kesesuaian dengan Profil Risiko Investor
Setiap produk dipetakan sesuai tujuan, horizon waktu, dan toleransi risiko masing-masing investor.
Disclaimer: Reksa dana adalah produk pasar modal yang mengan-dung risiko; kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa mendatang. Nilai investasi dapat naik maupun turun dan investor menanggung seluruh risiko atas keputusan investasinya. Pastikan memilih produk sesuai profil risiko dan tujuan keuangan Anda. Investor disarankan membaca prospektus sebelum melakukan pembelian.
Rekomendasi untuk Investor Emas
- Pertahankan sebagai pelindung nilai (safe haven). Ketidakpastian geopolitik dan arah suku bunga global membuat emas tetap relevan sebagai penyeimbang portofolio.
- Tambahkan secara bertahap, bukan sekaligus. Gunakan strategi pembelian berkala, terutama saat terjadi koreksi teknikal setelah lonjakan tajam.
- Jaga proporsi yang sehat. Idealnya 10–20% dari total portofolio agar berfungsi sebagai proteksi, bukan spekulasi utama.
- Fokus jangka menengah–panjang. Volatilitas harian bisa tinggi, tetapi tren emas umumnya mengikuti siklus suku bunga, inflasi, dan risiko global.
Yuk, investasi sekarang di tanamduit!
⚠ Sebelum melakukan keputusan investasi, investor wajib memahami profil risiko pribadi dan mempelajari karakteristik produk investasi, termasuk potensi risiko yang mungkin dihadapi. Informasi ini bersifat umum dan tidak dapat dijadikan sebagai jaminan kinerja di masa depan; kinerja historis tidak mencerminkan hasil di masa depan.
DISCLAIMER:
Tulisan ini dibuat dan diterbitkan oleh tanamduit, yang dikembangkan dan dikelola oleh PT Mercato Digital Asia sebagai induk usaha dari PT Star Mercato Capitale. PT Mercato Digital Asia telah terdaftar pada Kementerian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) dengan nomor 005445.01/DJAI.PSE/07/2022 dan bekerja sama dengan PT Cipta Optima Digital (Emasin) untuk produk Koleksi Emas, dan PT BPRS Attaqwa dalam menyediakan produk Tabungan Emas 24 Karat produksi emasi PT Aneka Tambang Tbk (Antam).
PT Star Mercato Capitale sebagai anak usaha dari PT Mercato Digital Asia, telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) dengan ijin nomor KEP-13/PM.21/2017, serta ditetapkan menjadi Mitra Distribusi SBN Retail dengan nomor S-363/PR/2018 dan SBN Syariah dengan nomor PENG-2/PR.4/2018 dari DJPPR, Kementerian Keuangan Republik Indonesia.
Tulisan ini bersumber dari berbagai informasi tertulis dan visual yang terpercaya dan tersebar luas baik yang disediakan secara digital maupun hardcopy. tanamduit berusaha untuk memberikan informasi yang terbaik, namun meskipun demikian manajemen tanamduit beserta karyawan dan afiliasinya tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas keakuratan, kelalaian, atau kerugian apa pun yang timbul dari penggunaan tulisan ini.


