tanamduit menawarkan investasi AMAN dengan return atau imbal hasil lebih tinggi dari bunga deposito.
Berikut adalah data-data indeks saham, nilai tukar mata uang, harga komoditas, dan yield obligasi per 5 Juli 2024:
Minggu Pertama Juli 2024, IHSG Naik 2,69%
Jumat (5/7), IHSG kembali mengalami kenaikan 32,48 poin atau 0,45% ke 7.253,37 dengan nilai transaksi sekitar Rp9,4 triliun.
Selama 5 hari perdagangan seminggu terakhir (1-5 Juli 2024), IHSG naik 2,69%. IHSG terpaut sekitar 0,27% lagi untuk mencapai angka akhir tahun 2023.
Seminggu terakhir, kenaikan IHSG terjadi karena pengaruh sentimen positif dari beberapa indikator ekonomi Amerika yang menguatkan akan dilakukannya pemotongan suku bunga USD oleh bank sentral AS, US Fed, di bulan September mendatang.
Beberapa indikator tersebut antara lain, turunnya Purchasing Managers’ Index (PMI) SMI, naiknya klaim pengangguran awal, dan melemahnya inflasi di bulan Juni yang lalu.
Adapun faktor internal dalam negeri dipengaruhi oleh pernyataan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia.
Dalam pernyataan tersebut, mereka menangkis rilis Morgan Stanley yang menurunkan atau underweight investasi di saham-saham Bursa Efek Indonesia karena melemahnya Rupiah. Adapun kekhawatiran meningkatnya utang Indonesia untuk membiayai program Makan Siang Gratis Presiden Terpilih Prabowo Subianto.
Rilisan Aliran Modal Asing
Dari website Bank Indonesia diperoleh informasi sebagai berikut:
- Premi CDS Indonesia 5 tahun per 4 Juli 2024 sebesar 73,58 bps, turun dibandingkan 28 Juni 2024 sebesar 77,05 bps.
- Berdasarkan data transaksi 1 – 4 Juli 2024, nonresiden (investor asing) tercatat beli neto Rp8,34 triliun, dengan rincian:
- beli neto Rp2,08 triliun di pasar saham
- beli neto Rp8,15 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI),
- jual neto Rp1,89 triliun di pasar SBN.
- Selama tahun 2024, berdasarkan data setelmen s.d. 4 Juli 2024, nonresiden (investor asing) tercatat jual neto Rp32,58 triliun di pasar SBN, jual neto Rp9,06 triliun di pasar saham, dan beli neto Rp139,79 triliun di SRBI.
Jumat (5/7), Rupiah Ditutup Menguat
Mata uang Rupiah kembali ditutup naik ke Rp16.277 per dolar AS pada hari Jumat (5/7). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah mengakhiri perdagangan dengan naik 0,32% atau 52 poin ke posisi Rp16.277 per dolar AS, sementara indeks dolar (US Dollar Index/ DXY) terpantau turun 0,40% ke posisi 104,652. (Bisnis)
Jumat (5/7), Bank Indonesia merilis berita mengenai meningkatnya cadangan devisa Indonesia di akhir Juni 2024 dari USD139,0 miliar menjadi USD140,2 miliar menjadi sentimen positif menguatnya Rupiah.
Harga Surat Utang Negara Ditutup Menguat Hari Jumat Yang Lalu
Yield SUN Benchmark 5-tahun turun 2 basis poin menjadi 6,91%, dan yield SUN Benchmark 10-tahun turun 3 bp menjadi 7,03%.
Volume transaksi SBN tercatat Rp11,5 triliun di hari Jumat, lebih rendah hari sebelumnya Rp14,0 triliun. Sementara itu, volume transaksi obligasi korporasi tercatat sebesar Rp2,7 triliun.
Harga Emas Dunia Naik Moderat Hari Jumat Lalu
Jumat (5/7), harga emas dunia naik lebih dari 1% ke $2,390 per ons. Kenaikan ini terjadi sebagai reaksi atas data dari laporan pekerjaan AS terbaru yang mengindikasikan pelemahan ekonomi AS.
Adapun peningkatkan ekspektasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve, sehingga menekan US Dollar terhadap mata uang lainnya dan memicu kenaikan harga logam mulia. (Trading Economics)
Yield US Treasury 10 Tahun Turun Setelah NFP
Yield US Treasury 10 Tahun turun di bawah ambang batas 4,3% hari Jumat (5/7). Hal ini terjadi sebagai lanjutan penurunan tajam dari level tertinggi satu bulan sebesar 4,47% yang dicapai pada tanggal 1 Juli 2024.
Adapun pengaruh laporan pekerjaan terbaru Non Farm Payroll (NFP) mendukung pandangan bahwa The Fed akan memulai siklus pemotongannya pada bulan September.
Laporan ketenagakerjaan juga menunjukkan pertumbuhan upah yang melambat, meningkatnya tingkat pengangguran, serta meningkatnya klaim pengangguran.
Hasil laporan tersebut menjadi pertanda melemahnya ekonomi AS dan akan membuat inflasi melambat kearah 2% yang diinginkan oleh The Fed sehingga meningkatkan ekspektasi bahwa suku bunga akan turun di bulan September 2024.
Data dan ekspektasi ini membuat yield US Treasury turun atau harganya naik.
Nasdaq Sentuh Rekor Baru
Nasdaq mencapai level tertinggi baru, naik 0,8% melampaui 18,343, sementara Dow Jones relatif datar. Sentimen pasar membaik menyusul data yang menunjukkan perlambatan dalam bidang tenaga kerja AS pada bulan Juni yang lalu.
Kenaikan harga saham AS dipimpin oleh saham-saham jasa komunikasi dan teknologi, dengan Meta +4,2%, Alphabet +2,2%, Apple +1,6% dan AMD +5,6%, sementara Nvidia turun 0,4%.
Ulasan
- Data pengangguran AS menjadi penguat melemahnya ekonomi AS setelah data-data sebelumnya juga menunjukkan pelemahan, antara lain turunnya PMI Index dan turunnya inflasi Personal Consumption Expenditure (PCE AS), sehingga memperkuat harapan segera turunnya suku bunga USD di bulan September 2024.
- Menjelang kepastian penurunan suku bunga US, pasar saham dan obligasi Indonesia masih akan volatile. Dengan tingkat volatilitas yang menurun, harga-harga saham cenderung akan naik kembali sampai akhir tahun 2024.
- Harga emas diperkirakan masih akan naik karena beberapa bank sentral masih akan melanjutkan pembelian emas, terutama Bank Sentral China. Hal ini bertujuan untuk diversifikasi risiko di tengah ketidakpastian global dan ketegangan geopolitik yang masih belum mereda.
Rekomendasi
- Untuk jangka pendek, investor disarankan untuk mengurangi investasi di reksa dana berbasis saham, yaitu reksa dana saham, indeks saham dan campuran.
- Untuk jangka panjang, pertimbangkan untuk mulai mengakumulasi reksa dana saham dan indeks saham karena harga-harga saham saat ini dalam kategori murah.
- Untuk jangka waktu kurang dari 1 tahun, disarankan untuk memperbanyak investasi di reksa dana pasar uang karena masih memberikan return yang lebih tinggi dari bunga deposito.
- Harga emas masih volatile. Namun, dalam jangka menengah–panjang, harga emas diperkirakan masih akan naik karena beberapa bank sentral masih melakukan pembelian emas untuk diversifikasi risiko karena ketidakpastian global, baik dalam hal perekonomian maupun geopolitik yang masih memanas.
- Emas dapat dipertimbangkan untuk menjadi portfolio investasi untuk jangka menengah dan panjang.
- Tetaplah berinvestasi secara rutin untuk mencapai tujuan keuangan. Pilih produk reksa dana yang sesuai dengan profil risiko masing-masing.
- Emas dapat dipertimbangkan untuk investasi jangka panjang karena nilai emas selalu mengalahkan inflasi.
Yuk, investasi sekarang di tanamduit!
DISCLAIMER:
Tulisan ini dibuat dan diterbitkan oleh PT Star Mercato Capitale (tanamduit), anak perusahaan PT Mercato Digital Asia, yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana dengan nomor KEP-13/PM.21/2017 serta menjadi mitra distribusi SBN dari DJPPR – Kementerian Keuangan Republik Indonesia dengan nomor S-363/pr/2018 dan dari SBSN dengan nomor PENG-2/PR.4/2018.
PT Mercato Digital Asia telah terdaftar pada Kementerian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) dengan nomor: 005445.01/DJAI.PSE/07/2022 dan bekerja sama dengan PT Cipta Optima Digital (emasin) untuk produk Koleksi Emas dan PT BPRS ATTAQWA (BPRS Attaqwa) dalam menyediakan produk Tabungan Emas 24 Karat produksi emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam).
Tulisan ini bersumber dari berbagai informasi tertulis dan visual yang terpercaya dan tersebar luas baik yang disediakan secara digital maupun hardcopy. Meskipun demikian, PT Star Mercato Capitale tidak dapat menjamin keakurasian dan kelengkapan data dan informasinya. Manajemen PT Star Mercato Capitale beserta karyawan dan afiliasinya menyangkal setiap dan semua tanggung jawab atas keakurasian, kelalaian, atau kerugian apapun dari penggunaan tulisan ini.


