tanamduit menawarkan investasi AMAN dengan return atau imbal hasil lebih tinggi dari bunga deposito.
Berikut adalah data-data indeks saham, nilai tukar mata uang, harga komoditas, dan yield obligasi per 19 Juli 2024:
Jumat (19/7), IHSG Turun
IHSG ditutup melemah melemah 0,36% ke posisi 7.294,49 hari Jumat (19/7) dengan nilai transaksi sekitar Rp 9,5 triliun dan investor asing melakukan net buy sekitar Rp86 miliar setelah Kamis (18/7) terjadi net buy signifikan, sekitar Rp1,16 triliun.
Jumat (19/7), IHSG turun setelah hari sebelumnya ditutup melonjak naik sekitar 1,3% dan berhasil kembali ke level psikologis 7.300.
Apalagi, pada perdagangan hari Jumat lalu merupakan perdagangan terakhir di pekan tersebut, sehingga biasanya investor mulai melakukan aksi profit taking atau squaring position.
Harga Surat Utang Negara Melemah (Yield Naik) Hari Jumat Yang Lalu
Pada sesi perdagangan hari terakhir pekan lalu, harga SUN mengalami pelemahan. Yield SUN Benchmark 5-tahun (FR0101) naik sebesar 4 basis poin ke level 6,83%, dan yield SUN Benchmark 10-tahun (FR0100) naik sebesar 4 basis poin ke level 6,94%.
Sementara data Bloomberg menunjukkan level yield curve SUN 10-tahun (GIDN10YR) naik sebesar 2 basis poin ke level 6,95%.
Nilai transaksi SBN secara outright tercatat sebesar Rp15,2 triliun, tidak banyak berubah dibandingkan dengan hari sebelumnya yang Rp15,8 triliun. Sementara itu, nilai transaksi obligasi korporasi secara outright tercatat sebesar Rp2,9 triliun. (BNI Sekuritas)
Aliran Modal Asing (Minggu III Juli 2024)
Dari website Bank Indonesia diperoleh informasi, bahwa:
- Premi Credit Default Swap (CDS) Indonesia 5 tahun per 18 Juli 2024 sebesar 74,04 bps, naik dibandingkan 12 Juli 2024 sebesar 69,58 bps.
- Di masa 15–18 Juli 2024, nonresiden (investor asing) tercatat beli neto Rp0,69 triliun terdiri dari (1) beli neto Rp0,67 triliun di Saham (2) beli neto Rp0,40 triliun di SRBI, serta (3) jual neto Rp0,38 triliun di SBN.
- Selama tahun 2024 sampai 18 Juli 2024(YTD), nonresiden (investor asing) tercatat (1) jual neto Rp31,10 triliun di pasar SBN, (2) jual neto Rp2,98 triliun di pasar saham, dan (3) beli neto Rp162,15 triliun di SRBI.
Amerika Serikat: Meningkatnya Aktifitas Manufaktur Membuat US Dollar Index dan Yield Obligasi US Treasury Meningkat dan Harga Emas Turun
Data ekonomi AS terbaru pada hari Kamis (18/7) menunjukkan bahwa aktifitas manufaktur di wilayah Atlantik Tengah AS meningkat lebih dari perkiraan pada bulan Juli di tengah lonjakan pesanan baru.
Akibatnya US Dollar Index (DXY) naik 0,4% di hari Kamis yang lalu dan bertahan di 104,2 di hari Jumat.
Selain itu juga menyebabkan yield US Treasury 10 tahun naik di atas 4,2%, setelah sempat menyentuh 4,16% di hari Selasa dan Rabu sebelumnya.
Di lain pihak harga emas juga mengalami penurunan lebih dari 2% di hari Jumat yang lalu. Data terbaru ini tidak mengubah ekspektasi pasar akan turunnya suku bunga USD di bulan September mendatang. (Trading Economics)
Joe Biden Mengundurkan Diri Dari Pencalonan Presiden Periode Berikutnya dan Mendukung Kamala Harris
Seperti yang sudah diantisipasi secara luas, Presiden AS Joe Biden telah mengundurkan diri dari pemilihan Presiden tahun 2024.
Hal ini terjadi setelah berminggu-minggu para pendukungnya mengabaikan Trump di tengah penampilan buruknya dalam debat melawan mantan Presiden dan calon dari Partai Republik Donald Trump.
Sejalan dengan pengunduran dirinya Biden memberikan dukungannya kepada Wakil Presiden Kamala Harris sebagai calon Presiden dari Partai Demokrat.
Partai Demokrat mengkhawatirkan kelayakan Biden sebagai kandidat setelah penampilan debatnya baru-baru ini. Selama debat, dia tampak tua dan kehilangan kontak, kehilangan pemikiran dan beberapa kali salah bicara.
Pengunduran diri Biden berpotensi membuat situasi politik di Amerika Serikat menjadi tidak stabil serta hubungan politik dengan negara-negara aliansi AS. Pasar Keuangan akan bersikap wait and see menunggu perkembangan selanjutnya. (Investing, Kompas)
Ulasan
- Kemungkinan diturunkannya suku bunga USD oleh US Fed di bulan September mendatang semakin besar. Hal ini karena data-data ekonomi AS menunjukkan pelemahan, antara lain inflasi bulan Juni turun ke 3% dari bulan sebelumnya 3,3% dan melemahnya lapangan pekerjaan, sehingga membuat US Dollar Index turun ke level 104.
- IHSG sangat berpotensi untuk naik minimal 5% lebih tinggi dibandingkan dengan posisi IHSG akhir tahun 2023 atau ke level 7.600 di akhir tahun 2024.
- Pengunduran diri Joe Biden mengikuti kontestasi sebagai calon Presiden di tahun 2024 akan membuat situasi politik AS dan juga situasi politik dunia untuk sementara menjadi tidak stabil dan akan ada dampaknya pada pasar keuangan dan komoditas. Pasar akan bersikap wait and see melihat perkembangan politik di AS.
- Harga emas diperkirakan masih akan naik karena beberapa bank sentral masih akan melanjutkan pembelian emas, terutama Bank Sentral China. Aksi tersebut bertujuan untuk diversifikasi risiko di tengah ketidakpastian global dan ketegangan geopolitik yang masih belum mereda.
Rekomendasi
- Untuk jangka pendek, investor disarankan untuk tetap berinvestasi di reksa dana pasar uang karena masih memberikan return lebih tinggi dari bunga deposito.
- Untuk jangka menengah dan panjang, pertimbangkan untuk mengakumulasi reksa dana saham dan indeks saham. Hal ini karena menguatnya kemungkinan turunnya suku bunga US di bulan September mendatang dan mendorong investor global untuk mengalokasikan investasinya ke emerging countries, termasuk ke Indonesia, dan ini akan mendorong naiknya harga-harga saham di Bursa Efek Indonesia.
- Harga emas masih volatile. Dalam jangka menengah dan jangka panjang, harga emas diperkirakan masih akan naik karena beberapa bank sentral masih melakukan pembelian emas untuk diversifikasi risiko karena ketidakpastian global, baik dalam hal perekonomian maupun geopolitik yang masih memanas.
- Emas dapat dipertimbangkan untuk menjadi portfolio investasi untuk jangka menengah dan panjang.
- Tetaplah berinvestasi secara rutin untuk mencapai tujuan keuangan. Pilih produk reksa dana yang sesuai dengan profil risiko masing-masing.
- Emas dapat dipertimbangkan untuk investasi jangka panjang karena nilai emas selalu mengalahkan inflasi.
Yuk, investasi sekarang di tanamduit!
DISCLAIMER:
Tulisan ini dibuat dan diterbitkan oleh PT Star Mercato Capitale (tanamduit), anak perusahaan PT Mercato Digital Asia, yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana dengan nomor KEP-13/PM.21/2017 serta menjadi mitra distribusi SBN dari DJPPR – Kementerian Keuangan Republik Indonesia dengan nomor S-363/pr/2018 dan dari SBSN dengan nomor PENG-2/PR.4/2018.
PT Mercato Digital Asia telah terdaftar pada Kementerian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) dengan nomor: 005445.01/DJAI.PSE/07/2022 dan bekerja sama dengan PT Cipta Optima Digital (emasin) untuk produk Koleksi Emas dan PT BPRS ATTAQWA (BPRS Attaqwa) dalam menyediakan produk Tabungan Emas 24 Karat produksi emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam).
Tulisan ini bersumber dari berbagai informasi tertulis dan visual yang terpercaya dan tersebar luas baik yang disediakan secara digital maupun hardcopy. Meskipun demikian, PT Star Mercato Capitale tidak dapat menjamin keakurasian dan kelengkapan data dan informasinya. Manajemen PT Star Mercato Capitale beserta karyawan dan afiliasinya menyangkal setiap dan semua tanggung jawab atas keakurasian, kelalaian, atau kerugian apapun dari penggunaan tulisan ini.
tanamduit menawarkan investasi AMAN dengan return atau imbal hasil lebih tinggi dari bunga deposito.
Berikut adalah data-data indeks saham, nilai tukar mata uang, harga komoditas, dan yield obligasi per 11 Juli 2024:
IHSG Naik ke Level 7.300 Kamis (11/7)
Kamis (11/7), IHSG melanjutkan penguatannya, naik 13,36 poin atau 0,18% ke 7.300,41 dengan nilai transaksi sekitar Rp9,6 triliun. Kenaikan IHSG masih berkaitan optimisme pasar akan penurunan suku bunga US oleh US Federal Reserve.
Kenaikan ini terjadi setelah pidato Jerome Powell, Chairman dari US Fed, di hadapan Senat AS hari Rabu (10/7) menyampaikan bahwa inflasi sudah melandai walaupun belum sampai pada target 2% tetapi ada kekhawatiran jika suku bunga ditahan terlalu lama dapat membahayakan pertumbuhan ekonomi.
Pernyataan ini menguatkan ekspektasi pasar bahwa suku bunga akan segera turun di bulan September yang akan datang. Ini juga menjadi sentimen positif pagi pasar saham dan obligasi Indonesia karena penurunan suku bunga US akan diikuti oleh Bank Indonesia dengan menurunkan bunga acuan BI Rate yang saat ini bertengger di 6,25%.
Kenaikan IHSG hari Kamis kemarin di dominasi oleh saham AMMN yang naik 2,64%, BBNI +1,04% dan BRIS 1,62%. (CNBC Indonesia)
Harga Surat Utang Negara Naik Moderat
Kamis (11/7), Yield SUN Benchmark 5-tahun (FR0101) turun sebesar 3 basis poin menjadi 6,86%, dan yield SUN Benchmark 10-tahun (FR0100) turun sebesar 5 basis poin ke level 6,98%. Turunnya yield obligasi mencerminkan kenaikan harga obligasi.
Nilai transaksi SBN secara outright tercatat sebesar Rp13,0 triliun kemarin, lebih tinggi hari sebelumnya Rp10,7 triliun. Sementara itu, nilai transaksi obligasi korporasi secara outright tercatat sebesar Rp1,0 triliun. (BNI Sekuritas)
Rupiah Meneruskan Penguatan Hari Kamis Kemarin
Mengutip data Bloomberg, Rupiah ditutup menguat 46 poin atau 0,28% ke level Rp16.194,5 per dolar AS pada Kamis (11/7) Adapun indeks dolar AS melemah sebesar 0,12% ke posisi 104,92 di hari sebelumnya.
Penguatan Rupiah beriringan dengan penguatan mata uang Asia lainnya, Yen Jepang menguat 0,06%, Won Korea +0,30%, Yuan China +0,07%, Ringgit Malaysia dan Baht Thailand +0,20% dan +0,26%. (Bisnis)
Harga Emas Melonjak Naik
Harga emas dunia melonjak naik ke USD2,410 per ounce pada hari Kamis (11/7). Kenaikan ini terjadi karena sebagai reaksi atas data baru menunjukkan bahwa inflasi umum di AS melambat lebih dari yang diperkirakan ke level terendah dalam satu tahun sebesar 3% di bulan Juni.
Data ini meningkatkan harapan pasar bahwa suku bunga US akan segera turun di bulan September mendatang, sehingga investor akan mengalokasikan sebagian investasinya ke emas. (Trading Economics)
Yield US Treasury 10 Tahun Turun Moderat
Imbal hasil (yield) obligasi US Treasury bertenor 10-tahun merosot 10bps ke angka 4,20% pada hari Kamis (11/7). Penurunan in iterjadi setelah rilis data inflasi tahunan AS di bulan Juni 3,0% yang lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar 3,1% dan juga dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
Data tersebut mendukung spekulasi pasar bahwa pelemahan inflasi akan berlanjut di bulan berikutnya didukung oleh data-data lainnya, seperti menurunnya lapangan pekerjaan dan personal consumption expenditure, dan pasar bersiap untuk penurunan suku bunga Fed pada bulan September. (Trading Economics)
S&P500, Nasdaq Mundur Dari Rekor Karena Membebani Megacaps
Sebagian besar saham AS berakhir lebih rendah pada hari Kamis (11/7). Hal ini didorong oleh aksi jual besar-besaran pada saham-saham megacap karena investor menilai dampak potensi suku bunga yang lebih rendah pada sektor korporasi. S&P500 turun 0,8%, Nasdaq turun 1,9%, dan Dow Jones bertambah 32 poin.
Data terakhir yang menunjukkan inflasi melemah ke 3% di bawah ekspektasi pasar yang 3,1% meningkatkan ekspektasi suku bunga US akan segera turun di bulan September mendatang.
Hal ini membuat pasar semakin optimis terhadap perbaikan kondisi kredit sehingga pasar lebih memilih sektor tradisional atau obligasi dan menjual posisi saham teknologi AI di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa pendapatan atau revenue mereka (emiten teknologi) akan menurun.
Nvidia turun 5,6%, Microsoft dan Apple masing-masing turun lebih dari 2%, Tesla turun 8.4% dan Meta turun 4.1%. (Trading Economics)
Ulasan
- Data inflasi AS bulan Juni turun ke 3% dibanding bulan sebelumnya 3,3% dan di bawah ekspektasi pasar 3,1%. Hal ini semakin memperkuat ekspektasi pasar bahwa suku bunga US akan segera turun di bulan September mendatang.
- Investor global akan mengurangi investasi mereka di AS dan mengalokasikannya ke negara-negara lain termasuk ke Indonesia.
- IHSG sangat berpotensi untuk naik minimal 5% lebih tinggi dibandingkan dengan posisi IHSG akhir tahun 2023 atau ke level 7.600 di akhir tahun 2024.
- Harga emas diperkirakan masih akan naik karena beberapa bank sentral masih akan melanjutkan pembelian emas, terutama Bank Sentral China, dengan tujuan untuk diversifikasi risiko di tengah ketidakpastian global dan ketegangan geopolitik yang masih belum mereda.
Rekomendasi
- Untuk jangka pendek, investor disarankan untuk tetap berinvestasi di reksa dana pasar uang karena masih memberikan return lebih tinggi dari bunga deposito.
- Untuk jangka menengah dan panjang, pertimbangkan untuk mengakumulasi reksa dana saham dan indeks saham. Hal ini karena menguatnya kemungkinan turunnya suku bunga US di bulan September mendatang dan mendorong investor global untuk mengalokasikan investasinya ke emerging countries, termasuk ke Indonesia, dan ini akan mendorong naiknya harga-harga saham di Bursa Efek Indonesia.
- Harga emas masih volatile. Dalam jangka menengah dan jangka panjang, harga emas diperkirakan masih akan naik karena beberapa bank sentral masih melakukan pembelian emas untuk diversifikasi risiko karena ketidakpastian global, baik dalam hal perekonomian maupun geopolitik yang masih memanas.
- Emas dapat dipertimbangkan untuk menjadi portfolio investasi untuk jangka menengah dan panjang.
- Tetaplah berinvestasi secara rutin untuk mencapai tujuan keuangan. Pilih produk reksa dana yang sesuai dengan profil risiko masing-masing.
- Emas dapat dipertimbangkan untuk investasi jangka panjang karena nilai emas selalu mengalahkan inflasi.
Yuk, investasi sekarang di tanamduit!
DISCLAIMER:
Tulisan ini dibuat dan diterbitkan oleh PT Star Mercato Capitale (tanamduit), anak perusahaan PT Mercato Digital Asia, yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana dengan nomor KEP-13/PM.21/2017 serta menjadi mitra distribusi SBN dari DJPPR – Kementerian Keuangan Republik Indonesia dengan nomor S-363/pr/2018 dan dari SBSN dengan nomor PENG-2/PR.4/2018.
PT Mercato Digital Asia telah terdaftar pada Kementerian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) dengan nomor: 005445.01/DJAI.PSE/07/2022 dan bekerja sama dengan PT Cipta Optima Digital (emasin) untuk produk Koleksi Emas dan PT BPRS ATTAQWA (BPRS Attaqwa) dalam menyediakan produk Tabungan Emas 24 Karat produksi emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam).
Tulisan ini bersumber dari berbagai informasi tertulis dan visual yang terpercaya dan tersebar luas baik yang disediakan secara digital maupun hardcopy. Meskipun demikian, PT Star Mercato Capitale tidak dapat menjamin keakurasian dan kelengkapan data dan informasinya. Manajemen PT Star Mercato Capitale beserta karyawan dan afiliasinya menyangkal setiap dan semua tanggung jawab atas keakurasian, kelalaian, atau kerugian apapun dari penggunaan tulisan ini.



