tanamduit menawarkan investasi AMAN dengan return atau imbal hasil lebih tinggi dari bunga deposito.
Berikut adalah data-data indeks saham, nilai tukar mata uang, harga komoditas, dan yield obligasi per 16 Juli 2024:
BI Rate Tetap di 6,25%
Hari Rabu sore kemarin Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyampaikan hasil rapat Dewan Gubernur BI bahwa BI Rate tetap dipertahankan di 6,25%.
Keputusan ini bertujuan untuk menjaga inflasi dalam kisaran target 2,5±1% untuk tahun 2024 dan 2025 sekaligus memperkuat efektivitas stabilisasi nilai tukar Rupiah dan menarik masuknya modal asing.
Beberapa pertimbangan dipertahankannya BI Rate adalah pertumbuhan ekonomi yang baik di Q1-2024 sebesar 5,11%, inflasi umum yang melambat menjadi 2,51% pada bulan Juni dari 2,84% pada bulan sebelumnya, menandai angka terendah sejak September 2023. (Bank Indonesia)
Rupiah Menguat Setelah Pengumuman BI Rate Rabu Kemarin
Rupiah ditutup naik ke level Rp16.100 per dolar AS hari Rabu kemarin usai Bank Indonesia memutuskan menahan suku bunga di level 6,25%.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup naik 0,49% atau 79 poin ke level Rp16.100 per dolar AS. Adapun indeks dolar (DXY) terpantau turun 0,28% ke level 103,665.
Penguatan Rupiah beriringan dengan penguatan mata uang kawasan Asia lainnya, Yen Jepang +1,07%, Dolar Hong Kong dan Singapura +0,01% dan +0,25%, Won Korea +0,47%, Peso Filipina +015%, Yuan China +0,05%, ringgit Malaysia +0,18%, Baht Thailand +0,41%, dan Rupee India +0,02%. (Bisnis)
Harga Emas Dunia Naik Hari Rabu Kemarin
Harga emas naik di atas USD2.470 per ounce pada hari Rabu kemarin, mencapai rekor tertinggi baru, didorong oleh meningkatnya optimisme bahwa Federal Reserve akan menurunkan suku bunga pada awal September.
Ketua Fed Jerome Powell dalam pernyataannya pada hari Senin bahwa bank sentral tidak akan menunggu inflasi mencapai 2% sebelum memulai penurunan suku bunga. (Trading Economics)
Harga Surat Utang Negara Menguat Lagi Hari Rabu Kemarin
Harga SUN mengalami penguatan pada sesi perdagangan kemarin, dimana yield SUN Benchmark 5-tahun (FR0101) turun 1 basis poin menjadi 6,79%, dan yield SUN Benchmark 10-tahun (FR0100) turun 4 basis poin menjadi 6,90%. Sementara data Bloomberg menunjukkan level yield curve SUN 10-tahun (GIDN10YR) turun sebesar 3 bps menjadi 6,93%.
Nilai transaksi SBN secara outright tercatat sebesar Rp15,4 triliun, lebih rendah dari hari sebelumnya yang Rp16,5 triliun. Sementara itu, nilai transaksi obligasi korporasi secara outright tercatat sebesar Rp1,5 triliun. (BNI Sekuritas)
Harga Surat Utang Negara Menguat Selasa Kemarin
Harga SUN bergerak variatif dengan kecenderungan menguat pada sesi perdagangan Selasa kemarin. Yield SUN Benchmark 5-tahun (FR0101) turun sebesar 5 basis poin menjadi 6,80%, dan yield SUN Benchmark 10-tahun (FR0100) turun sebesar 2 basis poin menjadi 6,94%. Sementara data Bloomberg menunjukkan level yield curve SUN 10-tahun (GIDN10YR) bertahan di level 6,96%.
Nilai transaksi SBN secara outright tercatat sebesar Rp16,5 triliun, lebih tinggi dari hari sebelumnya yang Rp12,5 triliun. Sementara itu, volume transaksi obligasi korporasi secara outright tercatat sebesar Rp3,6 triliun. (BNI Sekuritas)
Yield US Treasury 10 Tahun Stabil Hari Rabu Kemarin
Imbal hasil (yield) obligasi Treasury AS bertenor 10-tahun bertahan di sekitar 4,17%, berada pada level terendah dalam empat bulan di tengah ekspektasi kuat bahwa Federal Reserve akan mulai memangkas suku bunga pada bulan September, dengan dua penurunan lagi yang diperkirakan terjadi sebelum akhir tahun. (Trading Economics)
Saham Wall Street – Indeks Dow Jones Menembus 41.000
Indeks Dow Jones hari Rabu kemarin melonjak naik 0,59% menembus 41.000 dari 40.954,48 ke 41.198,08 dan menjadi rekor tertinggi yang baru, dipimpin oleh sektor keuangan dan energi seiring dengan percepatan peralihan dari sektor teknologi menyusul penurunan harga sektor teknologi yang dipimpin oleh Nvidia karena alas an geopolitik antara AS dengan Tiongkok.
Sementara S&P 500 turun 1,4%, dan NASDAQ Composite merosot 2,8% dan tetap berada di jalur hari terburuk sejak akhir tahun 2022. (Investing)
Ulasan
- Kemungkinan diturunkannya suku bunga USD oleh US Fed di bulan September mendatang semakin besar. Hal ini karena data-data ekonomi AS menunjukkan pelemahan, antara lain inflasi bulan Juni turun ke 3% dari bulan sebelumnya 3,3% dan melemahnya lapangan pekerjaan, sehingga membuat US Dollar Index turun ke level 104.
- IHSG sangat berpotensi untuk naik minimal 5% lebih tinggi dibandingkan dengan posisi IHSG akhir tahun 2023 atau ke level 7.600 di akhir tahun 2024.
- Harga emas diperkirakan masih akan naik karena beberapa bank sentral masih akan melanjutkan pembelian emas, terutama Bank Sentral China. Aksi tersebut bertujuan untuk diversifikasi risiko di tengah ketidakpastian global dan ketegangan geopolitik yang masih belum mereda.
Rekomendasi
- Untuk jangka pendek, investor disarankan untuk tetap berinvestasi di reksa dana pasar uang karena masih memberikan return lebih tinggi dari bunga deposito.
- Untuk jangka menengah dan panjang, pertimbangkan untuk mengakumulasi reksa dana saham dan indeks saham. Hal ini karena menguatnya kemungkinan turunnya suku bunga US di bulan September mendatang dan mendorong investor global untuk mengalokasikan investasinya ke emerging countries, termasuk ke Indonesia, dan ini akan mendorong naiknya harga-harga saham di Bursa Efek Indonesia.
- Harga emas masih volatile. Dalam jangka menengah dan jangka panjang, harga emas diperkirakan masih akan naik karena beberapa bank sentral masih melakukan pembelian emas untuk diversifikasi risiko karena ketidakpastian global, baik dalam hal perekonomian maupun geopolitik yang masih memanas.
- Emas dapat dipertimbangkan untuk menjadi portfolio investasi untuk jangka menengah dan panjang.
- Tetaplah berinvestasi secara rutin untuk mencapai tujuan keuangan. Pilih produk reksa dana yang sesuai dengan profil risiko masing-masing.
- Emas dapat dipertimbangkan untuk investasi jangka panjang karena nilai emas selalu mengalahkan inflasi.
Yuk, investasi sekarang di tanamduit!
DISCLAIMER:
Tulisan ini dibuat dan diterbitkan oleh PT Star Mercato Capitale (tanamduit), anak perusahaan PT Mercato Digital Asia, yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana dengan nomor KEP-13/PM.21/2017 serta menjadi mitra distribusi SBN dari DJPPR – Kementerian Keuangan Republik Indonesia dengan nomor S-363/pr/2018 dan dari SBSN dengan nomor PENG-2/PR.4/2018.
PT Mercato Digital Asia telah terdaftar pada Kementerian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) dengan nomor: 005445.01/DJAI.PSE/07/2022 dan bekerja sama dengan PT Cipta Optima Digital (emasin) untuk produk Koleksi Emas dan PT BPRS ATTAQWA (BPRS Attaqwa) dalam menyediakan produk Tabungan Emas 24 Karat produksi emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam).
Tulisan ini bersumber dari berbagai informasi tertulis dan visual yang terpercaya dan tersebar luas baik yang disediakan secara digital maupun hardcopy. Meskipun demikian, PT Star Mercato Capitale tidak dapat menjamin keakurasian dan kelengkapan data dan informasinya. Manajemen PT Star Mercato Capitale beserta karyawan dan afiliasinya menyangkal setiap dan semua tanggung jawab atas keakurasian, kelalaian, atau kerugian apapun dari penggunaan tulisan ini.
tanamduit menawarkan investasi AMAN dengan return atau imbal hasil lebih tinggi dari bunga deposito.
Berikut adalah data-data indeks saham, nilai tukar mata uang, harga komoditas, dan yield obligasi per 11 Juli 2024:
IHSG Naik ke Level 7.300 Kamis (11/7)
Kamis (11/7), IHSG melanjutkan penguatannya, naik 13,36 poin atau 0,18% ke 7.300,41 dengan nilai transaksi sekitar Rp9,6 triliun. Kenaikan IHSG masih berkaitan optimisme pasar akan penurunan suku bunga US oleh US Federal Reserve.
Kenaikan ini terjadi setelah pidato Jerome Powell, Chairman dari US Fed, di hadapan Senat AS hari Rabu (10/7) menyampaikan bahwa inflasi sudah melandai walaupun belum sampai pada target 2% tetapi ada kekhawatiran jika suku bunga ditahan terlalu lama dapat membahayakan pertumbuhan ekonomi.
Pernyataan ini menguatkan ekspektasi pasar bahwa suku bunga akan segera turun di bulan September yang akan datang. Ini juga menjadi sentimen positif pagi pasar saham dan obligasi Indonesia karena penurunan suku bunga US akan diikuti oleh Bank Indonesia dengan menurunkan bunga acuan BI Rate yang saat ini bertengger di 6,25%.
Kenaikan IHSG hari Kamis kemarin di dominasi oleh saham AMMN yang naik 2,64%, BBNI +1,04% dan BRIS 1,62%. (CNBC Indonesia)
Harga Surat Utang Negara Naik Moderat
Kamis (11/7), Yield SUN Benchmark 5-tahun (FR0101) turun sebesar 3 basis poin menjadi 6,86%, dan yield SUN Benchmark 10-tahun (FR0100) turun sebesar 5 basis poin ke level 6,98%. Turunnya yield obligasi mencerminkan kenaikan harga obligasi.
Nilai transaksi SBN secara outright tercatat sebesar Rp13,0 triliun kemarin, lebih tinggi hari sebelumnya Rp10,7 triliun. Sementara itu, nilai transaksi obligasi korporasi secara outright tercatat sebesar Rp1,0 triliun. (BNI Sekuritas)
Rupiah Meneruskan Penguatan Hari Kamis Kemarin
Mengutip data Bloomberg, Rupiah ditutup menguat 46 poin atau 0,28% ke level Rp16.194,5 per dolar AS pada Kamis (11/7) Adapun indeks dolar AS melemah sebesar 0,12% ke posisi 104,92 di hari sebelumnya.
Penguatan Rupiah beriringan dengan penguatan mata uang Asia lainnya, Yen Jepang menguat 0,06%, Won Korea +0,30%, Yuan China +0,07%, Ringgit Malaysia dan Baht Thailand +0,20% dan +0,26%. (Bisnis)
Harga Emas Melonjak Naik
Harga emas dunia melonjak naik ke USD2,410 per ounce pada hari Kamis (11/7). Kenaikan ini terjadi karena sebagai reaksi atas data baru menunjukkan bahwa inflasi umum di AS melambat lebih dari yang diperkirakan ke level terendah dalam satu tahun sebesar 3% di bulan Juni.
Data ini meningkatkan harapan pasar bahwa suku bunga US akan segera turun di bulan September mendatang, sehingga investor akan mengalokasikan sebagian investasinya ke emas. (Trading Economics)
Yield US Treasury 10 Tahun Turun Moderat
Imbal hasil (yield) obligasi US Treasury bertenor 10-tahun merosot 10bps ke angka 4,20% pada hari Kamis (11/7). Penurunan in iterjadi setelah rilis data inflasi tahunan AS di bulan Juni 3,0% yang lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar 3,1% dan juga dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
Data tersebut mendukung spekulasi pasar bahwa pelemahan inflasi akan berlanjut di bulan berikutnya didukung oleh data-data lainnya, seperti menurunnya lapangan pekerjaan dan personal consumption expenditure, dan pasar bersiap untuk penurunan suku bunga Fed pada bulan September. (Trading Economics)
S&P500, Nasdaq Mundur Dari Rekor Karena Membebani Megacaps
Sebagian besar saham AS berakhir lebih rendah pada hari Kamis (11/7). Hal ini didorong oleh aksi jual besar-besaran pada saham-saham megacap karena investor menilai dampak potensi suku bunga yang lebih rendah pada sektor korporasi. S&P500 turun 0,8%, Nasdaq turun 1,9%, dan Dow Jones bertambah 32 poin.
Data terakhir yang menunjukkan inflasi melemah ke 3% di bawah ekspektasi pasar yang 3,1% meningkatkan ekspektasi suku bunga US akan segera turun di bulan September mendatang.
Hal ini membuat pasar semakin optimis terhadap perbaikan kondisi kredit sehingga pasar lebih memilih sektor tradisional atau obligasi dan menjual posisi saham teknologi AI di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa pendapatan atau revenue mereka (emiten teknologi) akan menurun.
Nvidia turun 5,6%, Microsoft dan Apple masing-masing turun lebih dari 2%, Tesla turun 8.4% dan Meta turun 4.1%. (Trading Economics)
Ulasan
- Data inflasi AS bulan Juni turun ke 3% dibanding bulan sebelumnya 3,3% dan di bawah ekspektasi pasar 3,1%. Hal ini semakin memperkuat ekspektasi pasar bahwa suku bunga US akan segera turun di bulan September mendatang.
- Investor global akan mengurangi investasi mereka di AS dan mengalokasikannya ke negara-negara lain termasuk ke Indonesia.
- IHSG sangat berpotensi untuk naik minimal 5% lebih tinggi dibandingkan dengan posisi IHSG akhir tahun 2023 atau ke level 7.600 di akhir tahun 2024.
- Harga emas diperkirakan masih akan naik karena beberapa bank sentral masih akan melanjutkan pembelian emas, terutama Bank Sentral China, dengan tujuan untuk diversifikasi risiko di tengah ketidakpastian global dan ketegangan geopolitik yang masih belum mereda.
Rekomendasi
- Untuk jangka pendek, investor disarankan untuk tetap berinvestasi di reksa dana pasar uang karena masih memberikan return lebih tinggi dari bunga deposito.
- Untuk jangka menengah dan panjang, pertimbangkan untuk mengakumulasi reksa dana saham dan indeks saham. Hal ini karena menguatnya kemungkinan turunnya suku bunga US di bulan September mendatang dan mendorong investor global untuk mengalokasikan investasinya ke emerging countries, termasuk ke Indonesia, dan ini akan mendorong naiknya harga-harga saham di Bursa Efek Indonesia.
- Harga emas masih volatile. Dalam jangka menengah dan jangka panjang, harga emas diperkirakan masih akan naik karena beberapa bank sentral masih melakukan pembelian emas untuk diversifikasi risiko karena ketidakpastian global, baik dalam hal perekonomian maupun geopolitik yang masih memanas.
- Emas dapat dipertimbangkan untuk menjadi portfolio investasi untuk jangka menengah dan panjang.
- Tetaplah berinvestasi secara rutin untuk mencapai tujuan keuangan. Pilih produk reksa dana yang sesuai dengan profil risiko masing-masing.
- Emas dapat dipertimbangkan untuk investasi jangka panjang karena nilai emas selalu mengalahkan inflasi.
Yuk, investasi sekarang di tanamduit!
DISCLAIMER:
Tulisan ini dibuat dan diterbitkan oleh PT Star Mercato Capitale (tanamduit), anak perusahaan PT Mercato Digital Asia, yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan sebagai Agen Penjual Efek Reksa Dana dengan nomor KEP-13/PM.21/2017 serta menjadi mitra distribusi SBN dari DJPPR – Kementerian Keuangan Republik Indonesia dengan nomor S-363/pr/2018 dan dari SBSN dengan nomor PENG-2/PR.4/2018.
PT Mercato Digital Asia telah terdaftar pada Kementerian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) dengan nomor: 005445.01/DJAI.PSE/07/2022 dan bekerja sama dengan PT Cipta Optima Digital (emasin) untuk produk Koleksi Emas dan PT BPRS ATTAQWA (BPRS Attaqwa) dalam menyediakan produk Tabungan Emas 24 Karat produksi emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam).
Tulisan ini bersumber dari berbagai informasi tertulis dan visual yang terpercaya dan tersebar luas baik yang disediakan secara digital maupun hardcopy. Meskipun demikian, PT Star Mercato Capitale tidak dapat menjamin keakurasian dan kelengkapan data dan informasinya. Manajemen PT Star Mercato Capitale beserta karyawan dan afiliasinya menyangkal setiap dan semua tanggung jawab atas keakurasian, kelalaian, atau kerugian apapun dari penggunaan tulisan ini.



